:: Sepatah Duapatah Tigapatah Empatpatah Banyakpatah Kata ::

Ini sebenernya blog ku yang ke 2. Dulu aku udah sempat buat blog, tapi karena ngerasa kurang sreg...jadi aku buat aja blog baru..dan inilah dia blog baru ku "Secret Lucky Clover".

Kenapa sih..kenapa sih..kok dinamain kayak gitu? The answer is because *sok-sok an bahasa inggris* secret lucky clover sendiri artinya daun tersembunyi yang bawa keberuntungan, yang mana sih itu daunnya? itu lhooo...yang kayak di background blog ini yang aku buat sendiri gambarnya *pamerrr..kkk~~* yang jumlah kelopak daunnya ada 4, yang biasanya susah banget nyarinya, soalnya kebanyakan yang 3. Aku suka banget sama daun ini, aku berharap daun ini bisa bawa keberuntungan buat aku, ya... walaupun aku belum pernah dapetin daun ini.

Aku juga berharap semoga semua info atau apapun itu yang aku curahkan *lebay* di blog baruku ini dapat bawa keberuntungan *bagi-bagi keberuntungan ceritanya kkk~~*, membantu dan memberikan info untuk kalian semua...ammiiennn~~

Semoga Beruntung ^.^

Tampilkan postingan dengan label kebudayaan jepang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kebudayaan jepang. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Desember 2011

Pernikahan Jepang

 Cara Perayaan Pernikahan di Jepang
Perayaan pernikahan di Jepang biasanya diadakan pada musim semi dan musim gugur, karena pada saat musim semi dan musim gugur dianggap sebagai hari baik untuk melangsungkan upacara pernikahan. Masyarakat Jepang masih percaya dengan kalender Jepang yang menerangkan hari baik dan buruk. Ada dua cara perayaan pernikahan di Jepang, yaitu dengan cara tradisional (upacara Shinto / shinzen kekkon shiki) dan dengan cara modern (pernikahan ala Barat / kirisuto-kyou shiki).

Tata Cara Pernikahan Tradisional di Jepang
Pernikahan tardisional Jepang dilangsungkan di Kuil dengan sistem Budha atau biasa dikenal dengan pernikahan Shinto. Dalam adat ini, pasangan pengantin memakai pakaian tradisional kimono. Pengantin perempuan memakai kimono tradisional pernikahan (shiromuku/kimono putih), sedangkan pengantin laki-laki memakai montsuki haori hakama (kimono resmi dengan hakama).
Pengantin perempuan biasanya akan diminta memilih antara dua topi pernikahan tradisional. Satu adalah penutup kepala pernikahan berwarna putih yang disebut tsunokakushi (penutup dahi) yang bermakna “menyembunyikan tanduk”. Tutup kepala ini dipenuhi dengan ornamen rambut kanzashi di bagian atasnya dan mempelai perempuan mengenakannya sebagai tudung untuk menyembunyikan “tanduk kecemburuan”, kekakuan dan egoisme dari ibu mertua yang sekarang akan menjadi kepala keluarga.
Penutup kepala yang ditempelkan pada kimono putih pengantin perempuan, juga melambangkan ketetapan hatinya untuk menjadi istri yang patuh dan lembut dan kesediannya untuk melaksanakan perannya dengan kesabaran dan ketenangan.
Hiasan kepala tradisional lain yang dapat dipilih pengantin perempuan adalah wataboushi (tudung pengantin). Jika menggunakan wataboushi, wajah pengantin perempuan benar-benar tersembunyi dari siapapun kecuali pengantin pria. Hal ini menunjukkan kesopanan, yang sekaligus mencerminkan kualitas kebijakan yang paling dihargai dalam pribadi perempuan.
Ibu sang pengantin perempuan menyerahkan anak perempuannya dengan menurunkan tudung sang anak dan ayah dari pengantin perempuan mengikuti tradisi berjalan mengiringi anak perempuannya menuju altar seperti yang dilakukan para ayah dalam pernikahan ala Barat.
Biasanya sebelum upacara dilaksanakan, sang pengantin wanita "diwarnai" dengan bedak putih dari ujung kepala hingga ujung kaki sebagai simbol bahwa sang pengantin masih suci dihadapan para dewa.
 Pernikahan Shinto bersifat sangat pribadi hanya dihadiri anggota keluarga dan kerabat dekat dan pernikahan dipimpin oleh pendeta shinto.
Di awal upacara pernikahan, pasangan disucikan oleh pendeta Shinto. Kemudian pasangan mengikuti sebuah ritual yang dinamakan san-sankudo. Selama ritual ini, pengantin perempuan dan laki-laki bergiliran menghirup sake, masing-masing menghirup sembilan kali dari tiga cangkir yang disediakan. Saat pengantin perempuan dan laki-laki mengucap janji, keluarga mereka saling berhadapan (umumnya kedua pengantin yang saling berhadapan). Setelah itu, anggota keluarga dan kerabat dekat dari kedua pengantin saling bergantian meminum sake dan hal tersebut menandakan persatuan atau ikatan melalui pernikahan.
Upacara ditutup dengan mengeluarkan sesaji berupa ranting Sakaki (pohon suci dalam agama Shinto) yang ditujukan kepada Dewa Shinto. Tujuan dari ritual Shinto adalah untuk mengusir roh-roh jahat dengan cara pembersihan, doa, dan persembahan kepada Dewa.
Prosesi dalam pernikahan Shinto ini berlangsung sangat singkat dan sederhana tetapi berjalan dengan sangat khidmat. Prosesi tersebut memiliki makna untuk memperkuat janji pernikahan dan mengikat pernikahan fisik kedua mempelai secara rohani.
Di akhir resepsi pernikahan, tandamata atau hikidemono seperti permen, peralatan makan, atau pernak-pernik pernikahan, diletakkan dalam sebuah tas dan diberikan kepada para tamu untuk dibawa pulang.

Tata Cara Pernikahan Modern di Jepang
Pernikahan modern Jepang biasanya dilangsungkan di Gereja dengan sistem agama Kristen walaupun ke dua pengantin tidak beragama Kristen. Pernikahan ini juga tetap dipimpin oleh seorang pendeta. Dalam pernikahan modern, pasangan pengantin biasanya menggunakan baju / gaun pengantin berwarna putih. Selain itu, ada juga upacara pemotongan kue, pertukaran cincin, dan prosesi-prosesi yang ada di dalam pernikahan Barat.

Hal yang Perlu Diperhatikan Apabila Menerima Undangan Pernikahan di Jepang
Di Jepang apabila menerima sebuah surat undangan pernikahan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1.  Menjawab Undangan Pernikahan
Setelah undangan diterima, diharuskan segera membalas isi undangan tersebut, dengan mengirimkan kartu pos apakah dapat hadir atau tidak.
Jika Tidak Dapat Hadir
a.  Dalam kartu pos dituliskan ucapan selamat & alasan tidak bisa hadir.
b. Mengirimkan hadiah tanda ikut bergembira. Tetapi ada beberapa barang yang tidak bisa diberikan karena dipercaya orang jepang dapat merusak kehidupan rumah tangganya yaitu :
- Pisau, gunting, dan barang-barang yang dapat memutuskan sesuatu, karena khawatir akan memutuskan ikatan pernikahan.
- Barang pecah belah sepeti gelas kaca, keramik, karena khawatir akan memecah
belah kerukunan berumah tangga.
Jika Dapat Hadir
a.  Dalam kartu pos dituliskan ucapan selamat & terima kasih atas undangan tersebut,
2.  Pakaian Yang Digunakan
Pakaian yang digunakan, untuk pria stelan berwarna hitam, untuk wanita gaun, kimono, atau pakaian daerah lainnya.
3.  Mempersiapkan Hadiah Pernikahan Berupa Uang
Mempersiapkan uang yang disebut “Goshuugi” (hadiah ucapan selamat) yang dimasukan ke dalam amplop khusus yang disebut “Shuugibukuro” (amplop yang berisi ucapan selamat) dan di depannya bertuliskan nama pemberi uang. Kira-kira uang yang diberikannya adalah 20 ribu-30 ribu yen jika yang menikah adalah teman kantor. Goshuugi diberikan kepada resepsionis yang berada di meja penerima tamu.
4.  Sambutan & Pembawa Acara (MC)
Jika diminta untuk memberikan sambutan atau sebagai pembawa acara, ada beberapa kata yang tidak boleh diucapkan, yaitu:
Wakareru (berpisah), owaru (berakhir), hanareru (berjauhan), kiru (memotong) karena dikhawatirkan hal tersebut akan terjadi dalam rumah tangga.
Misalnya:
- Ucapan penutup acara pernikahan
(X) Hiroen o owari ni shimasu (Kita akhiri upacara ini) diganti menjadi
(O) Hiroen o ohiraki ni shimasu (Kita tutup upacara ini).
- Ucapan ketika mempersilakan memotong kue
(X) Wedingu keeki o kiru ( silakan memotong kue) diganti menjadi
(O) Wedingu keeki ni naifu o ireru (silakan memasukan pisau ke kue pernikahan).
5. Pesta Lanjutan (Nijikai)
Setelah upacara pernikahan selesai, beberapa kerabat atau sahabat dekat akan diundang ke pesta lanjutan yang disebut “Nijikai” (pesta resepsi).
6.  Ucapan Perpisahan
Setelah upacara/ pesta pernikahan selesai, kemudian berpamitan pada pengantin dengan mengucapkan salam perpisahan.
              Walaupun ada beberapa cara untuk merayakan pernikahan di Jepang, tetapi kebanyakan pasangan mengikuti ritual tradisi Shinto. Shinto (cara-cara Dewa) adalah kepercayaan tradisional masyarakat Jepang dan merupakan agama yang paling populer di Jepang selain agama Budha. Hal tersebut juga membuktikan bahwa kebanyakan masyarakat Jepang tidak meninggalkan kebudayaan tradisional mereka.


Jumat, 15 Juli 2011

Kerudung Ajaib (きき耳ずきん)

Pada zaman dahulu kala, disuatu tempat yang dikelilingi gunung, tinggallah seorang kakek yang hidup sendirian. Sang kakek setiap pagi memikul syoiko dan berpergian keluar gunung. Dan selama satu hari penuh memotong rumput.

            Jadi, pada suatu hari. Seperti biasanya, sang kakek turun dari gunung dengan memikul banyak rumput.

            “A ~ ~ leganya, sangat melelahkan. Ayo segera pulang…Hah? Apa itu. Anak rubah…”

            Di tengah-tengah perjalanan pulang, sang kakek bertemu dengan seekor anak rubah. Anak rubah itu berusaha melompat-lompat, mencoba mengambil buah di pohon. Tetapi kaki anak rubah itu sedang sakit, seberapa pun usahanya, ia tidak memperoleh buah dari pohon itu.

            “Oh begitu ya, sepertinya kakimu sedang sakit. Baiklah..baiklah..aku akan mengambilkannya”

            Sang kakek mengambilkan buah di pohon itu untuk anak rubah.

            “Ya, makanlah ini”

            Anak rubah memakan buah dari pohon itu, dengan terlihat gembira.

            “Kalau begitu, aku akan pulang. Kamu juga pulanglah dengan hati-hati ya”

            Sang kakek berjalan pelan-pelan sambil memikul rumput dan pulang ke rumah dengan hati-hati. Karena kebaikan hati sang kakek, anak rubah pun menjadi sangat gembira. Dari atas bukit, ia terus memperhatikan tubuh sang kakek dari belakang.

            “Terimakasih, kakek. Kebaikanmu tidak akan pernah ku lupakan”

            Kemudian dengan perlahan matahari senja mulai terbenam disebelah barat gunung.

            Lalu, keesokan harinya.

            Sang kakek pergi ke kota untuk berbelanja, tetapi saat perjalanan pulang, terjadi sesuatu.

            “Tidak boleh seperti ini, ayo..ayo..aku harus cepat”

           Setelah itu ketika matahari mulai terbenam, sang kakek melangkahkan kakinya dengan cepat pergi ke gunung.

            “Hah, anak rubah belum datang ya?”

            Benar. Sang kakek sedang menunggu anak rubah, tetapi karena anak rubah itu belum datang, akhirnya sang kakek merasa cemas dan gelisah. Tiba-tiba sang kakek melihat anak rubah itu dan memutuskan untuk mengikutinya dari belakang.

Karena sang kakek merasa kasihan melihat anak rubah yang berusaha keras berjalan sambil menyeret kakinya yang sakit, sang kakek pun memutuskan untuk mengantarkannya.

Tak lama kemudian, terlihatlah sarang anak rubah yang terdapat di dalam bambu.

“Oh, rumah mu di sini ya?”

Di rumah rubah, ibu rubah sudah menuggu. Walaupun ibu rubah dalam keadaan sakit dan berada di dalam futon, ia tetap berusaha memberikan salam kepada sang kakek. Karena sang kakek pernah menolong anak rubah, maka sang kakek diberikan sesuatu sebagai tanda terimakasih.

Dari lemari besar yang ada di rumah itu, ibu rubah mengeluarkan sesuatu.

“Ini adalah kerudung. Kerudung ini adalah barang yang penting”

Untuk menghargai pemberian ibu rubah, sang kakek mengenakannya saat pulang ke rumah. Anak rubah mengantarkan sang kakek hanya sampai di tengah perjalanan saja.

Keesokan harinya. Ketika sang kakek sedang membelah kayu bakar di halaman rumahnya sambil memakai kerudung pemberian dari rubah, tiba-tiba terdengarlah suara aneh

“Kamu itu, jangan menjadi suami yang pemalas, selama seharian penuh hanya berada di sarang, sekarang terbanglah berkeliaran di sekitar”

“Ho..ho..haruskah aku melakukannya?”

“Ia kamu harus melakukannya, huh…susahnya memberitahumu”

Kemudian sang kakek bertanya-tanya

“Siapa ya? Itu suara siapa ya?”

Sambil melihat di sekelilingnya dengan gelisah, tetapi tidak ada siapapun.

“Wah..lucunya siapa orang yang memiliki suara itu ya?”

Sebenarnya, itu adalah suara burung kecil. Tapi mengapa sang kakek dapat mendengarkan suara burung kecil tersebut?

“Hah? Apakah mungkin karena kerudung ini?”

Akhirnya sang kakek menyadarinya.

Benar. Hal yang aneh, karena menggunakan kerudung pemberian dari rubah, sang kakek dapat mendengarkan suara burung, rumput, pohon ,dan mendengarkan suara binatang yang sedang bercakap-cakap, semuanya dapat terdengar.

Mulai sekarang kerudung itu akan dijaga dengan baik-baik, karena itu adalah kerudung yang bagus pemberian dari rubah.

Kemudian pada hari berikutnya, ketika sang kakek pergi ke gunung, hal itu menjadi sangat menyenangkan bagi sang kakek.

Sang kakek masuk ke dalam gunung sambil mengenakan kerudungnya…

“Hey, cepat datang, aku duluan yang bicara..”

“Tunggu! Aku juga, aku yang lebih cepat. Tunggu..”

Banyak suara percakapan burung dan hewan yang terdengar sangat ramai.

“Ini kerudung yang bisa mendengarkan segalanya, sangat praktis”

Sang kakek merasa sangat gembira.

“Besok malam tidak bisa tidur dengan nyenyak ya”

“Benar, mengapa hujan tidak segera turun?”

Bukan hanya suara anak burung, rumput, dan pohon saja yang dapat terdengar. Suara sungai kecil pun dapat terdengar juga. Saat malampun, suara serangga juga terdengar.

“Uhuk..tenggorokan ku sakit. Uhuuuk…apabila sekali lagi aku tidak bernyanyi maka akan terjadi gempa”

“Dengan suara mu yang seperti itu, suara mu tetap bagus”

“Benarkah? Ya, kalau begitu saya akan mencoba bernyanyi sekali lagi”

Dengan terdengarnya suara serangga, makan suasana pada malam itu tidak lagi sepi.

Sama seperti hari-hari sebelumnya. Saat sang kakek pulang dari gunung, di atas pohon ada dua ekor burung gagak yang sedang membicarakan sesuatu. Sang kakek segera meggunakan kerudung ajaib, sehingga dapat mendengarkan pembicaraan burung gagak.

“Anak perempuan seorang saudagar kaya sedang sakit ya”

“Ya aku tahu. Ngomong-ngomong sebenarnya penyebab penyakit anak perempuan itu ada di sebelah gudang saudagar kaya, ada sebuah pohon yang benar-benar menghantui”

Mendengar hal itu sang kakek pun terkejut.

“Apa? Anak perempuan saudagar kaya sedang sakit? Yah, kasihan ya”

Setelah sang kakek mendengarkan desas-desus yang dikatakan burung gagak. Keesokan harinya, sang kakek segera pergi ke kota untuk mengunjugi rumah saudagar kaya tersebut. Saudagar kaya itu benar-benar kesulitan. Anak perempuan satu-satunya menderita penyakit berat dan sedang terbaring di tempat tidur. Saat sang kakek berada di rumah itu, ia memberitahukan bahwa penyakit anak perempuannya tersebut bersumber dari gudang saudagar kaya itu.

Hari mulai malam. Sang kakek menggunakan kerudung ajaib, menunggu sambil mengepul-ngepulkan asap rokoknya.

“Sakit…sakit…”

Dari luar gudang, terdengar suara pohon samar-samar.

“Harus bagaimana ya?” Tanya pohon di sebelahnya

“Adduuhhh…coba lihat ini. Gudang ini dibangun tepat di atas pinggang ku, karena aku merasa kesakitan, maka aku juga membuat anak saudagar kaya itu kesakian”

Sang kakek mendengar perkataan si pohon dan kakek akan menyelamatkannya.

Lalu keesokan harinya sang kakek memberitahuakan kepada saudagar kaya dan memberikan solusi yang terbaik baik saudagar kaya itu.

“Karena gudang anda dibangun di atas pohon yang ada di sebelahnya, pasti inilah yang meyebabkan anak perempuan anda sakit”

Lalu saudagar kaya itu segera memindahkan gudang tesebut ke tempat yang lebih baik. Setelah beberapa saat kemudian, keadaan anak perempuan dan si pohon, sedikit demi sedikit mulai membaik. Dan pohon itu dipenuhi oleh daun-daun hijau. Lalu anak perempuan saudagar kaya itu pun menjadi sehat.

“Syukurlah..syukurlah..”

Saudagar kaya itupun menjadi senang, kakek juga menjadi senang, karena dapat membantu.

“Terimakasih atas bentuannya, anda adalah penyelamat nyawa anak perempuan saya”

“Tidak..tidak, ini semua berkat kebaikan hati rubah, karena telah memberikan kerudung ajaib ini”

Sebagai tanda terimakasih, saudagar kaya memberikan sang kakek uang dan barang-barang berharga. Kakek berencana menggunakan uang itu untuk membelikan ibu dan anak rubah sesuatu sebagai oleh-oleh. Sang kakek membelikan aburage kesukaan rubah, dalam jumlah besar. Kemudian, sambil memikul oleh-oleh itu di bahu, sang kakek pulang melewati jalan-jalan di gunung.

“Hei rubah, ini ada aburage!!”

Dengan senag hati, sang kakek pulang ke rumah.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...